Nabi ke-20 dari 25
Kisah Nabi Ilyasa
Nabi Ilyasa adalah penerus dakwah Nabi Ilyas kepada Bani Israil. Al-Qur'an menyebut namanya sekilas, sebagai salah seorang yang saleh dan termasuk orang-orang pilihan Allah.
Siapa Ilyasa?
Nabi Ilyasa adalah nabi dari kalangan Bani Israil yang hidup setelah masa Nabi Ilyas. Al-Qur'an menyebut namanya dalam dua tempat: Surah Al-An'am ayat 86 dan Surah Sad ayat 48. Dalam kedua ayat itu, Allah menyebut Ilyasa bersama para nabi lainnya sebagai orang-orang yang diberi petunjuk dan termasuk orang-orang yang terbaik.
Namanya dalam Al-Qur'an disebut "Al-Yasa'", dan dalam tradisi penyebutan di Indonesia ia dikenal sebagai Ilyasa. Ia diyakini sebagai murid dan penerus Nabi Ilyas, yang kemudian melanjutkan seruan tauhid kepada Bani Israil setelah Ilyas tiada. Mengenai masa hidupnya yang pasti, Al-Qur'an tidak merinci tahun atau tempatnya secara detail, dan tidak ada keterangan sahih yang dapat dijadikan patokan pasti mengenai hal itu.
Yang jelas dan patut dipegang adalah kedudukannya: seorang nabi yang diutus Allah kepada Bani Israil, seorang hamba yang saleh, dan termasuk orang-orang yang Allah pilih. Al-Qur'an menggolongkannya bersama para nabi besar lainnya — sebuah penyebutan singkat namun bermakna besar, karena yang menyebutnya adalah Allah sendiri.
Dakwah & Ujian
Karena Al-Qur'an tidak merinci kisah Ilyasa secara panjang lebar, kita harus jujur mengakui bahwa tidak banyak detail yang bisa diceritakan tentang dakwahnya. Yang dapat dipahami dari konteks penyebutannya adalah bahwa ia melanjutkan tugas yang sama dengan Nabi Ilyas: menyeru Bani Israil untuk kembali menyembah Allah semata dan meninggalkan penyembahan kepada berhala.
Bani Israil pada masa itu dikenal sebagai kaum yang sering berpaling dari ajaran para nabi. Mereka pernah menyembah berhala Ba'l di masa Ilyas, dan kecenderungan untuk menyimpang itu tidak hilang begitu saja. Maka tugas Ilyasa tentulah tidak ringan: ia harus menegakkan kembali tauhid di tengah kaum yang sudah berulang kali membangkang.
Namun Al-Qur'an tidak menceritakan bagaimana kaumnya merespons, ujian apa yang ia hadapi, ataupun mukjizat apa yang ia miliki. Tidak ada kisah tentang dialognya dengan kaumnya, tidak ada pula cerita tentang akhir hidupnya yang dirinci dalam Al-Qur'an. Karena itu, kita tidak boleh mengarang detail-detail tersebut seolah-olah berasal dari sumber yang sahih. Yang dapat kita pegang hanyalah kesaksian Al-Qur'an bahwa ia adalah nabi yang saleh dan termasuk orang-orang yang terbaik.
Sikap jujur seperti ini justru penting. Tidak semua kisah nabi diceritakan panjang dalam Al-Qur'an. Sebagian diceritakan dengan sangat rinci, seperti kisah Yusuf dan Musa, dan sebagian hanya disebut namanya sebagai teladan. Keduanya sama-sama bermakna: yang satu memberi pelajaran lewat peristiwa, yang lain lewat kedudukan dan kesalehan orangnya.
Pelajaran dari Kisah Ilyasa
Pelajaran pertama dari kisah Ilyasa adalah bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari panjangnya kisah yang diceritakan tentangnya, melainkan dari pengakuan Allah atas kesalehannya. Ilyasa hanya disebut dua kali dalam Al-Qur'an, namun kedua penyebutan itu adalah pujian: ia termasuk orang-orang yang saleh dan yang terbaik. Itu sudah cukup sebagai kehormatan tertinggi.
Pelajaran kedua adalah tentang keberlanjutan dakwah. Dakwah tidak berhenti ketika seorang nabi tiada; Allah membangkitkan penerus-penerusnya. Ilyasa melanjutkan apa yang dirintis Ilyas. Bagi kita, ini mengingatkan bahwa kebaikan yang kita mulai bisa dilanjutkan orang lain, dan kebaikan yang dirintis orang sebelum kita layak kita teruskan.
Pelajaran ketiga adalah kejujuran dalam beragama. Ketika sumber tidak merinci sesuatu, kita berkata apa adanya: tidak tahu, atau tidak dirinci. Mengarang detail tentang nabi demi membuat cerita lebih menarik adalah perbuatan yang keliru. Kisah Ilyasa mengajarkan bahwa iman tidak membutuhkan cerita tambahan — cukup dengan apa yang Allah sampaikan.
Terakhir, kisah Ilyasa mengingatkan kita bahwa banyak hamba Allah yang saleh yang namanya tidak terkenal di dunia, namun mulia di sisi Allah. Tidak semua orang saleh menjadi terkenal; sebagian bekerja dalam diam, dan Allah-lah yang mencatatnya.
Bahan Konten
Video kisah Nabi Ilyasa sedang dibuat — segera hadir di halaman ini.
Sambil menunggu videonya, berikut beberapa ide konten video pendek yang bisa dibuat dari kisah di atas, cocok untuk Facebook, TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts:
- Penerus dakwah Ilyas: Ceritakan Ilyasa sebagai murid dan penerus Nabi Ilyas yang melanjutkan seruan tauhid kepada Bani Israil setelah Ilyas tiada. Video 60 detik tentang tongkat estafet dakwah — kebaikan yang dirintis orang sebelum kita layak kita teruskan.
- Hanya disebut dua kali, tapi dipuji Allah: Tampilkan dua ayat penyebutan Ilyasa (QS 6:86 dan QS 38:48) di layar sambil menarasikan bahwa kemuliaan tidak diukur dari panjangnya kisah, melainkan dari pengakuan Allah atas kesalehan seseorang.
- Jujur dalam beragama: Video edukasi singkat: karena Al-Qur'an tidak merinci detail dakwah Ilyasa, kita berkata apa adanya dan tidak mengarang. Pesan penutupnya — iman tidak membutuhkan cerita tambahan, cukup dengan apa yang Allah sampaikan.
Teks artikel di halaman ini boleh dipakai sebagai bahan naskah atau narasi video Anda.
Sumber
- QS Al-An'am:86 — penyebutan Ilyasa bersama para nabi sebagai orang-orang yang diberi petunjuk
- QS Sad:48 — penyebutan Ilyasa sebagai termasuk orang-orang yang terbaik
Detail yang hanya berasal dari retelling populer ditandai "menurut riwayat yang populer" atau tidak dicantumkan. Isi halaman ini berpegang pada Al-Qur'an dan hadis sahih.