Nabi ke-24 dari 25

Kisah Nabi Isa

Nabi Isa, putra Maryam, lahir tanpa ayah dengan izin Allah. Ia diutus kepada Bani Israil dengan mukjizat-mukjizat yang agung, dan Al-Qur'an menegaskan bahwa ia tidak disalib dan tidak dibunuh, melainkan diangkat oleh Allah.

Siapa Isa?

Nabi Isa adalah putra Maryam, seorang wanita suci yang dikaruniai Allah dengan kelahiran yang luar biasa. Kisah kelahirannya diceritakan secara rinci dalam Surah Maryam ayat 16–36 dan Surah Ali 'Imran ayat 45–59. Malaikat Jibril datang kepada Maryam membawa kabar gembira: ia akan melahirkan seorang anak laki-laki yang suci, yang akan menjadi tanda kebesaran Allah bagi manusia dan rahmat dari-Nya.

Maryam terkejut, karena ia belum pernah disentuh oleh laki-laki. Malaikat menjawab bahwa hal itu mudah bagi Allah: apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata "Jadilah!", maka jadilah ia. Demikianlah Isa lahir tanpa ayah — sebuah mukjizat penciptaan, sebagaimana Adam diciptakan tanpa ayah dan tanpa ibu. Surah Ali 'Imran ayat 59 menegaskan perbandingan ini: sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah adalah seperti Adam, yang Allah ciptakan dari tanah lalu berfirman kepadanya, "Jadilah!", maka jadilah ia.

Ketika Maryam kembali kepada kaumnya dengan membawa bayinya, mereka mencelanya. Namun bayi Isa berbicara — dengan izin Allah — dan membela ibunya. Ia berkata bahwa dirinya adalah hamba Allah, yang diberi Kitab dan dijadikan nabi, diberkahi di mana pun ia berada, diperintahkan shalat dan zakat selama hidupnya, serta berbakti kepada ibunya. Kisah ini diabadikan dalam Surah Maryam ayat 27–36.

Isa adalah salah seorang rasul yang bergelar Ulul Azmi — rasul-rasul yang memiliki keteguhan luar biasa dalam berdakwah. Ia diutus kepada Bani Israil dengan membawa Injil, membenarkan Taurat yang ada sebelumnya, dan memberi kabar gembira tentang datangnya seorang rasul setelahnya yang bernama Ahmad, sebagaimana disebut dalam Surah As-Saff ayat 6.

Dakwah & Ujian

Isa menyeru Bani Israil untuk menyembah Allah semata dan mengikuti ajaran yang dibawanya. Allah memberinya mukjizat-mukjizat yang agung, semuanya dengan izin Allah. Surah Ali 'Imran ayat 49 dan Surah Al-Ma'idah ayat 110 merinci mukjizat-mukjizat itu: ia membentuk burung dari tanah lalu meniupnya sehingga menjadi burung yang hidup dengan izin Allah; ia menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta; ia menghidupkan orang mati dengan izin Allah; dan ia memberitahukan apa yang dimakan dan disimpan orang-orang di rumah mereka.

Meskipun mukjizat-mukjizat itu begitu jelas, sebagian besar Bani Israil tetap menolaknya. Para pemuka agama pada masa itu menuduhnya dengan tuduhan yang keji, dan mereka merencanakan untuk membunuhnya. Al-Qur'an menegaskan dengan tegas dalam Surah An-Nisa ayat 157–158: mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, melainkan diserupakan bagi mereka. Allah mengangkat Isa kepada-Nya, dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Surah Al-Ma'idah ayat 110–118 juga menceritakan peristiwa turunnya hidangan dari langit atas permintaan para pengikut Isa, serta percakapan antara Allah dan Isa pada hari kiamat kelak, di mana Isa menegaskan bahwa ia tidak pernah menyuruh manusia menyembahnya dan menyembah ibunya — ia hanya menyampaikan apa yang Allah perintahkan: sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.

Dalam akidah Islam, Isa adalah hamba dan rasul Allah, bukan Tuhan dan bukan anak Tuhan. Ia adalah manusia yang dimuliakan dengan kenabian, dan Allah akan menurunkannya kembali menjelang hari kiamat, sebagaimana dijelaskan dalam hadis-hadis sahih. Kedatangannya yang kedua adalah salah satu tanda besar hari kiamat.

Pelajaran dari Kisah Isa

Pelajaran pertama adalah tentang kekuasaan Allah yang tidak terbatas. Kelahiran Isa tanpa ayah, mukjizat-mukjizatnya, dan pengangkatannya ke sisi Allah — semuanya menunjukkan bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Bila Allah berkehendak, Dia hanya berkata "Jadilah!"

Pelajaran kedua adalah tentang keteguhan di tengah penolakan. Isa berdakwah dengan mukjizat yang nyata di depan mata kaumnya, namun tetap ditolak dan dimusuhi. Ini mengingatkan kita bahwa kebenaran tidak selalu diterima, dan tugas seorang dai adalah menyampaikan, bukan memaksa.

Pelajaran ketiga adalah tentang kesucian Maryam dan pentingnya menjaga kehormatan. Al-Qur'an membela Maryam dari tuduhan kaumnya, dan Isa sendiri yang menjadi pembelanya sejak masih bayi. Menjaga nama baik orang yang tidak bersalah adalah bagian dari keadilan.

Pelajaran keempat adalah tentang tauhid yang murni. Kisah Isa menegaskan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Isa sendiri adalah hamba Allah yang menyeru manusia untuk menyembah Allah semata. Inilah inti dari seluruh dakwah para nabi, dari Adam hingga Muhammad ﷺ.

Terakhir, kisah Isa mengajarkan kita untuk bersikap adil terhadap semua nabi. Umat Islam mengimani Isa sebagai nabi yang mulia, mencintainya, dan menantikan kedatangannya kembali — tanpa mengangkatnya melebihi kedudukan yang Allah tetapkan baginya.

Bahan Konten

Video kisah Nabi Isa sedang dibuat — segera hadir di halaman ini.

Sambil menunggu videonya, berikut beberapa ide konten video pendek yang bisa dibuat dari kisah di atas, cocok untuk Facebook, TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts:

Teks artikel di halaman ini boleh dipakai sebagai bahan naskah atau narasi video Anda.

Sumber

Detail yang hanya berasal dari retelling populer ditandai "menurut riwayat yang populer" atau tidak dicantumkan. Isi halaman ini berpegang pada Al-Qur'an dan hadis sahih.