Nabi ke-7 dari 25

Kisah Nabi Luth

Luth diutus kepada kaum yang melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan umat sebelumnya. Ia memperingatkan mereka sampai malam terakhir — lalu kota mereka dibalikkan dan dihujani batu, dan hanya orang-orang beriman yang selamat.

Siapa Luth?

Luth adalah nabi yang beriman kepada Ibrahim dan berhijrah bersamanya. Al-Qur'an mencatat: "Maka Luth membenarkan (kenabian) Ibrahim." (QS 29:26). Ia lalu diutus Allah kepada kaumnya sendiri — kaum yang tinggal di kota-kota di lembah, yang dikenal dalam Al-Qur'an karena perbuatan kejinya.

Perbuatan kaum itu disebutkan dengan tegas: "Dan (Kami juga telah mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, 'Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?'" (QS 7:80). Mereka mendatangi laki-laki untuk melampiaskan syahwat, meninggalkan istri-istri mereka yang diciptakan Allah untuk mereka, dan melakukannya secara terang-terangan (QS 7:81; QS 26:165–166). Inilah kaum pertama yang melakukan perbuatan itu secara terbuka sebagai kebiasaan — dan karena itulah kisah Luth menjadi peringatan yang paling keras tentangnya.

Luth bukan orang asing bagi kaumnya; ia hidup di tengah mereka dan mengenal kebiasaan mereka dari dekat. Ia menyeru mereka sebagai saudara mereka, dengan bahasa yang sama seperti para nabi sebelumnya: bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku (QS 26:161–164).

Dakwah & Ujian

Luth memperingatkan kaumnya berkali-kali bahwa perbuatan mereka adalah perbuatan keji dan melampaui batas. Jawaban kaumnya bukan sekadar penolakan, melainkan ancaman pengusiran: "Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (mendakwakan dirinya) bersih." (QS 7:82; QS 27:56). Kesucian justru dijadikan alasan untuk mengusir — seolah-olah yang salah adalah orang yang menegur, bukan perbuatan yang ditegur.

Ujian Luth mencapai puncaknya ketika para malaikat datang kepadanya dalam wujud tamu-tamu yang rupawan. Luth merasa sempit dan takut, karena ia tahu apa yang akan dilakukan kaumnya terhadap tamu-tamunya (QS 11:77). Benar saja, kaumnya datang bergegas dengan niat buruk. Luth berdiri di pintu dan memohon: "Wahai kaumku, inilah putri-putri (negeriku), mereka lebih suci bagimu. Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini." Ia menawarkan jalan yang halal — pernikahan — sebagai ganti perbuatan keji itu, tetapi mereka menjawab bahwa mereka tidak membutuhkan apa yang ia tawarkan dan bahwa ia tahu apa yang mereka mau (QS 11:78–79).

Di saat yang paling genting itulah para tamu itu mengungkapkan jati diri mereka: mereka adalah utusan Allah yang datang untuk membinasakan kaum itu, dan tidak ada yang dapat menghalangi ketetapan tersebut (QS 11:81; QS 15:61–66). Mereka memerintahkan Luth pergi bersama keluarganya pada malam hari, dan melarang siapa pun menoleh ke belakang — kecuali istrinya, yang telah ditetapkan termasuk orang-orang yang tertinggal.

Ketika matahari terbit, azab itu datang: kota mereka dibalikkan — bagian atas menjadi bawah — dan dihujani batu dari tanah yang terbakar, yang bertanda di sisi Tuhan, bertubi-tubi (QS 11:82; QS 15:74). Al-Qur'an menyebut bahwa Luth dan keluarganya diselamatkan, kecuali istrinya yang termasuk orang-orang yang tertinggal dan binasa bersama kaumnya (QS 26:170–171). Istrinya itu pun dijadikan — bersama istri Nuh — sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir: tinggal serumah dengan nabi tidak menjamin keselamatan bila hati menolak beriman (QS 66:10).

Pelajaran dari Kisah Luth

Pertama, keburukan yang dinormalisasi tetaplah keburukan. Kaum Luth melakukan perbuatan kejinya secara terbuka dan menjadikannya kebiasaan, sampai-sampai orang yang menegur dianggap aneh dan diusir. Banyaknya orang yang melakukan sesuatu tidak mengubah hukum Allah tentangnya.

Kedua, teguhlah meski sendirian. Luth berdiri seorang diri di depan pintu rumahnya, menghadapi kaum yang bergegas dengan niat buruk, tanpa ada yang membantunya. Ia tidak lari dan tidak diam. Keteguhan seperti itulah yang membuat seorang nabi berbeda dari orang biasa.

Ketiga, jangan menoleh ke belakang. Perintah untuk pergi tanpa menoleh adalah pelajaran bagi setiap orang yang meninggalkan keburukan: jangan merindukan dosa yang telah ditinggalkan, dan jangan menoleh pada kehidupan lama yang telah Allah selamatkan darinya.

Keempat, kedekatan dengan orang saleh tidak menggantikan iman pribadi. Istri Luth tinggal serumah dengan seorang nabi, tetapi ia tertinggal karena hatinya bersama kaum yang ingkar. Nasab, pernikahan, dan kedekatan tidak menyelamatkan — yang menyelamatkan adalah iman dan ketaatan masing-masing.

Bahan Konten

Video kisah Nabi Luth sedang dibuat — segera hadir di halaman ini.

Sambil menunggu videonya, berikut beberapa ide konten video pendek yang bisa dibuat dari kisah di atas, cocok untuk Facebook, TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts:

Teks artikel di halaman ini boleh dipakai sebagai bahan naskah atau narasi video Anda.

Sumber

Detail yang hanya berasal dari retelling populer ditandai "menurut riwayat yang populer" atau tidak dicantumkan. Isi halaman ini berpegang pada Al-Qur'an dan hadis sahih.