Nabi ke-14 dari 25

Kisah Nabi Musa

Nabi Musa adalah rasul yang diutus kepada Firaun dan Bani Israil. Kisahnya adalah kisah terpanjang yang diceritakan dalam Al-Qur'an: dari bayi yang dihanyutkan di Sungai Nil, hingga membelah laut dan menerima kitab Taurat.

Siapa Musa?

Musa lahir di Mesir pada masa ketika Firaun, penguasa Mesir, memerintahkan agar setiap bayi laki-laki Bani Israil dibunuh. Bani Israil adalah keturunan Nabi Yakub yang tinggal di Mesir dan diperbudak oleh Firaun. Dalam keadaan genting itulah ibu Musa mendapat ilham untuk menghanyutkan bayinya dalam sebuah peti di Sungai Nil, seperti diceritakan dalam surah Al-Qasas (QS 28:7). Peti itu kemudian ditemukan oleh keluarga Firaun sendiri, dan Musa pun dibesarkan di istana penguasa yang justru memerintahkan pembunuhan bayi-bayi seperti dirinya.

Musa tumbuh menjadi pemuda yang kuat dan berani. Suatu hari ia menolong seorang lelaki Bani Israil yang sedang berkelahi dengan seorang Mesir, dan pukulan Musa tanpa sengaja menewaskan lelaki itu. Ketika kabar itu menyebar dan nyawanya terancam, Musa melarikan diri ke Madyan, negeri Nabi Syuaib. Di sana ia menikah dengan salah satu putri Syuaib dan tinggal selama beberapa tahun, menggembalakan ternak.

Dalam perjalanan pulang ke Mesir bersama keluarganya, Musa melihat api di sisi Bukit Tursina. Ketika ia mendekati api itu, Allah berbicara langsung kepadanya dan mengangkatnya menjadi rasul. Momen ini diceritakan dengan indah dalam surah Taha (QS 20:9–24). Musa diberi dua mukjizat sebagai bukti kerasulannya: tongkatnya yang berubah menjadi ular, dan tangannya yang memancarkan cahaya putih ketika dikeluarkan dari saku bajunya.

Merasa berat memikul tugas besar itu sendirian, Musa berdoa agar saudaranya, Harun, dijadikan pendamping karena Harun lebih fasih berbicara. Doa itu dikabulkan, sebagaimana diceritakan dalam surah Taha (QS 20:29–36). Sejak itu keduanya berdakwah bersama.

Dakwah & Ujian

Musa dan Harun mendatangi Firaun dan menyerunya untuk beriman kepada Allah dan membebaskan Bani Israil dari perbudakan. Firaun menolak dengan sombong. Ia mengaku sebagai tuhan dan menganggap Musa sebagai penyihir. Ia lalu mengumpulkan para ahli sihir terbaik di Mesir untuk menandingi Musa di hadapan rakyat. Ketika para penyihir itu melemparkan tali dan tongkat mereka yang tampak seperti ular-ular yang bergerak, Musa melemparkan tongkatnya, dan tongkat itu menelan semua yang mereka buat-buat. Melihat kebenaran itu, para penyihir itu pun bersujud dan beriman kepada Tuhan Musa dan Harun, meskipun Firaun mengancam mereka dengan siksaan yang kejam (QS 7:120–126).

Penolakan Firaun tidak berhenti di sana. Allah menimpakan berbagai azab kepada Mesir: banjir, belalang, kutu, katak, dan darah, seperti dirinci dalam surah Al-A'raf (QS 7:133). Setiap kali azab datang, Firaun berjanji akan beriman dan membebaskan Bani Israil, tetapi setiap kali azab diangkat, ia mengingkari janjinya.

Akhirnya Allah memerintahkan Musa membawa Bani Israil keluar dari Mesir pada malam hari. Firaun mengejar mereka dengan bala tentaranya hingga mereka tiba di tepi laut. Di saat itulah mukjizat terbesar terjadi: Musa memukulkan tongkatnya ke laut, laut pun terbelah, dan Bani Israil berjalan di jalan yang kering di tengah laut. Ketika Firaun dan tentaranya mengikuti, laut kembali menutup dan menenggelamkan mereka semua (QS 26:61–68).

Namun ujian Musa tidak berhenti setelah selamat dari Firaun. Bani Israil berkali-kali menunjukkan sikap yang sulit diatur. Ketika Musa naik ke Bukit Tursina untuk menerima Taurat selama empat puluh malam, kaumnya — yang ditinggal di bawah pimpinan Harun — justru membuat patung anak sapi dari emas dan menyembahnya. Musa kembali dengan marah dan sedih, menegur Harun dan kaumnya, lalu memohon ampunan bagi mereka (QS 7:142–156). Kisah ini menunjukkan betapa sabarnya seorang nabi menghadapi kaumnya yang berulang kali lalai, bahkan setelah menyaksikan mukjizat demi mukjizat dengan mata kepala mereka sendiri.

Dalam surah Al-Baqarah (QS 2:49–61) diceritakan pula berbagai peristiwa lain selama perjalanan Bani Israil: Allah menaungi mereka dengan awan, menurunkan manna dan salwa sebagai makanan, dan memancarkan mata air dari batu ketika mereka kehausan. Semua itu adalah nikmat yang berulang kali mereka balas dengan keluhan dan permintaan yang aneh-aneh, seperti meminta makanan yang lain padahal yang diberikan Allah lebih baik.

Pelajaran dari Kisah Musa

Kisah Musa mengajarkan bahwa pertolongan Allah bisa datang dari arah yang sama sekali tidak terduga: bayi yang seharusnya dibunuh justru dibesarkan di istana musuhnya sendiri. Ini mengingatkan kita bahwa rencana Allah selalu lebih besar dari rencana manusia, dan tidak ada kekuatan yang mampu menggagalkan apa yang telah Allah tetapkan.

Kedua, keberanian Musa menghadapi Firaun — penguasa paling berkuasa pada zamannya — mengajarkan bahwa kebenaran tidak diukur dari kekuasaan atau jumlah pengikut. Musa datang hanya berdua dengan Harun, tanpa tentara dan tanpa harta, tetapi dengan keyakinan penuh kepada Allah.

Ketiga, kesabaran Musa terhadap kaumnya sendiri mengajarkan bahwa dakwah bukan hanya soal menghadapi musuh di luar, melainkan juga soal bersabar dengan orang-orang yang kita bimbing. Musa tetap mendoakan kaumnya dan memohonkan ampunan bagi mereka, meskipun mereka berulang kali mengecewakannya.

Keempat, kisah Musa mengingatkan kita untuk tidak pernah merasa aman dari kesombongan. Firaun memiliki kekuasaan, harta, dan tentara, tetapi semua itu lenyap dalam sekejap ketika ia menentang Allah. Sebaliknya, Musa yang tidak memiliki apa-apa justru dimuliakan karena ketakwaannya.

Bahan Konten

Video kisah Nabi Musa sedang dibuat — segera hadir di halaman ini.

Sambil menunggu videonya, berikut beberapa ide konten video pendek yang bisa dibuat dari kisah di atas, cocok untuk Facebook, TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts:

Teks artikel di halaman ini boleh dipakai sebagai bahan naskah atau narasi video Anda.

Sumber

Detail yang hanya berasal dari retelling populer ditandai "menurut riwayat yang populer" atau tidak dicantumkan. Isi halaman ini berpegang pada Al-Qur'an dan hadis sahih.