Nabi ke-18 dari 25

Kisah Nabi Sulaiman

Nabi Sulaiman adalah putra Nabi Dawud yang mewarisi kerajaan dan kenabian. Allah menundukkan angin, jin, dan burung baginya, dan ia memahami bahasa hewan — tetapi semua kekuasaan itu tidak pernah membuatnya sombong.

Siapa Sulaiman?

Sulaiman adalah putra Nabi Dawud. Sejak muda ia sudah menunjukkan kebijaksanaan yang luar biasa: dalam perkara tanaman yang dirusak kambing, Allah menyebutkan bahwa Sulaiman diberi pemahaman yang lebih dalam daripada ayahnya sendiri (QS 21:79). Setelah Dawud wafat, Sulaiman mewarisi kerajaan dan kenabian, dan Allah memberinya kekuasaan yang tidak pernah diberikan kepada siapa pun sebelum atau sesudahnya.

Kekuasaan Sulaiman mencakup manusia, jin, dan burung. Angin ditundukkan untuknya, membawanya menempuh perjalanan yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan hanya dalam sehari (QS 34:12). Jin-jin bekerja untuknya, membangun istana dan membuat berbagai karya (QS 34:13). Burung-burung menjadi bagian dari pasukannya yang teratur. Dan yang paling menakjubkan, Sulaiman memahami bahasa hewan dan burung — sebuah karunia yang Allah sebutkan secara langsung dalam Al-Qur'an (QS 27:16).

Namun yang paling penting dari semua itu adalah sikap Sulaiman terhadap kekuasaannya. Ketika ia mendengar seekor semut memperingatkan kawanannya agar menyingkir dari jalan pasukan Sulaiman, ia tersenyum dan berdoa: "Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai" (QS 27:19). Di puncak kekuasaan, doanya bukan meminta tambahan, melainkan memohon agar tetap bersyukur.

Sulaiman juga dikenal karena doanya yang terkenal: ia memohon kepada Allah kerajaan yang tidak akan dimiliki oleh siapa pun sesudahnya, dan Allah mengabulkannya (QS 38:35). Tetapi doa itu ia panjatkan setelah ia bertaubat dan menyadari bahwa kekuasaan bisa menjadi ujian. Kisah ini menunjukkan bahwa bahkan nabi yang paling berkuasa pun memahami bahwa kekuasaan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Dakwah & Ujian

Salah satu kisah Sulaiman yang paling terkenal adalah kisahnya dengan burung Hud-hud dan Ratu Saba. Suatu hari Sulaiman memeriksa pasukannya dan mendapati Hud-hud tidak ada. Ia mengancam akan menghukum burung itu jika tidak membawa alasan yang jelas. Hud-hud pun kembali dengan kabar besar: ia menemukan sebuah kerajaan di negeri Saba yang dipimpin oleh seorang ratu, dan kaum itu menyembah matahari, bukan Allah (QS 27:20–24).

Sulaiman tidak langsung menyerang. Ia mengirim surat kepada Ratu Saba, mengajaknya untuk beriman kepada Allah dan tidak bersikap sombong. Ratu Saba — yang menurut riwayat yang populer bernama Balqis — menanggapi dengan hati-hati: ia mengirim hadiah untuk menguji Sulaiman. Sulaiman menolak hadiah itu dengan tegas, karena ia tidak membutuhkan harta; yang ia inginkan adalah agar kaum Saba beriman.

Akhirnya Ratu Saba datang sendiri ke istana Sulaiman. Di sana ia melihat kemegahan yang belum pernah ia bayangkan: istana dengan lantai dari kaca yang bening, yang ia kira adalah air sehingga ia menyingsingkan pakaiannya. Melihat semua itu, ia pun menyadari kebesaran Allah dan menyatakan keimanannya: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku, dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam" (QS 27:44). Kisah ini diceritakan lengkap dalam surah An-Naml (QS 27:15–44).

Ujian Sulaiman yang lain datang dari kekuasaan itu sendiri. Dalam surah Sad (QS 38:30–40), diceritakan bahwa Sulaiman pernah diuji dengan suatu cobaan yang membuatnya bertaubat dan kembali kepada Allah. Al-Qur'an tidak merinci cobaan itu panjang lebar, dan karena itu halaman ini pun tidak menambah-nambahkan detail yang tidak disebutkan. Yang jelas, sikap Sulaiman dalam menghadapi ujian adalah kembali dan bertaubat — dan Allah menerima taubatnya, lalu menambah karunia-Nya.

Pelajaran dari Kisah Sulaiman

Kisah Sulaiman mengajarkan bahwa kekuasaan terbesar sekalipun tidak ada artinya tanpa syukur. Sulaiman memiliki angin, jin, burung, dan kerajaan yang tak tertandingi, tetapi yang ia mohon kepada Allah adalah kemampuan untuk tetap bersyukur. Semakin besar nikmat, semakin besar pula kewajiban untuk bersyukur.

Kedua, kisah semut mengajarkan bahwa pemimpin yang baik memperhatikan yang kecil. Sulaiman yang memimpin pasukan besar masih mendengar dan memperhatikan seekor semut. Kepemimpinan yang sejati tidak hanya melihat hal-hal besar, tetapi juga peduli pada makhluk yang paling lemah.

Ketiga, kisah Ratu Saba mengajarkan bahwa dakwah tidak selalu harus dengan kekerasan. Sulaiman mengajak dengan surat, menolak hadiah dengan tegas, dan membiarkan kebenaran berbicara melalui apa yang dilihat sang ratu dengan mata kepalanya sendiri. Hasilnya, sang ratu beriman dengan sukarela.

Keempat, taubat Sulaiman mengingatkan kita bahwa tidak ada manusia yang kebal dari ujian, bahkan nabi yang paling berkuasa sekalipun. Yang membedakan orang saleh bukanlah tidak pernah diuji, melainkan sikapnya ketika diuji: ia kembali kepada Allah.

Bahan Konten

Video kisah Nabi Sulaiman sedang dibuat — segera hadir di halaman ini.

Sambil menunggu videonya, berikut beberapa ide konten video pendek yang bisa dibuat dari kisah di atas, cocok untuk Facebook, TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts:

Teks artikel di halaman ini boleh dipakai sebagai bahan naskah atau narasi video Anda.

Sumber

Detail yang hanya berasal dari retelling populer ditandai "menurut riwayat yang populer" atau tidak dicantumkan. Isi halaman ini berpegang pada Al-Qur'an dan hadis sahih.