Nabi ke-11 dari 25

Kisah Nabi Yusuf

Yusuf adalah putra Ya'qub yang bermimpi sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya — mimpi yang membawanya melewati sumur, perbudakan, fitnah, dan penjara, hingga menjadi bendahara Mesir dan memaafkan saudara-saudaranya.

Siapa Yusuf?

Yusuf adalah putra Nabi Ya'qub, cucu Ishaq, dan cicit Ibrahim. Kisahnya begitu lengkap dan runut hingga Allah mengabadikannya dalam satu surah utuh — Surah Yusuf (surah ke-12) — dari awal sampai akhir, tanpa terputus oleh kisah lain. Allah sendiri menyebutnya sebagai "kisah yang paling baik" (QS 12:3). Tidak ada nabi lain yang kisahnya diceritakan sedetail ini dalam satu tempat.

Semua bermula dari sebuah mimpi. Yusuf kecil bercerita kepada ayahnya, "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku." (QS 12:4). Ya'qub memahami bahwa mimpi itu adalah isyarat kedudukan besar di masa depan, dan ia menasihati Yusuf agar tidak menceritakannya kepada saudara-saudaranya, karena ia khawatir setan akan menyulut permusuhan di antara mereka (QS 12:5).

Kekhawatiran itu beralasan. Saudara-saudara Yusuf iri karena ayah mereka tampak lebih menyayangi Yusuf dan adiknya, Bunyamin. Rasa iri itu berubah menjadi rencana jahat: "Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu semata." (QS 12:9). Sebagian dari mereka mengusulkan jalan yang lebih ringan — melemparkannya ke dasar sumur, agar ditemukan kafilah yang lewat (QS 12:10). Demikianlah, seorang anak yang dicintai ayahnya dilempar ke dalam sumur yang gelap, sendirian, tanpa tahu apa yang akan terjadi.

Dakwah & Ujian

Di dasar sumur, Allah mewahyukan kepada Yusuf bahwa suatu hari ia akan menceritakan perbuatan saudara-saudaranya itu kepada mereka, sedangkan mereka tidak menyadarinya (QS 12:15). Sebuah kafilah menemukannya, menyembunyikannya sebagai barang dagangan, dan menjualnya di Mesir dengan harga yang sangat murah (QS 12:19–20). Yusuf yang tadinya putra seorang nabi kini menjadi budak di negeri asing. Ia dibeli oleh seorang pembesar Mesir — yang disebut Al-Qur'an sebagai "al-Aziz" — yang berkata kepada istrinya, "Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita pungut dia sebagai anak." (QS 12:21).

Ketika Yusuf tumbuh menjadi pemuda yang rupawan, ujian berikutnya datang: istri sang pembesar menggodanya. Yusuf menolak dengan tegas, "Aku berlindung kepada Allah. Sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." (QS 12:23). Ketika ia berlari menuju pintu dan bajunya ditarik hingga robek dari belakang, kebenaran pun terungkap: baju yang robek dari belakang membuktikan Yusuf yang dikejar, bukan yang mengejar (QS 12:25–28). Namun, demi menjaga nama baik keluarga, Yusuf justru dijebloskan ke penjara (QS 12:35). Al-Qur'an mencatat doanya yang menggetarkan: "Ya Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku." (QS 12:33). Ia memilih penjara daripada maksiat.

Di penjara, Yusuf tidak berhenti berdakwah. Dua pemuda yang dipenjara bersamanya bermimpi, dan Yusuf menakwilkan mimpi mereka — sebelum itu, ia mengajak mereka kepada tauhid: "Wahai kedua temanku dalam penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?" (QS 12:39). Ia juga berpesan kepada salah satu dari mereka yang akan bebas agar menyebut namanya di hadapan raja, tetapi setan membuatnya lupa, sehingga Yusuf tinggal di penjara beberapa tahun lagi (QS 12:42).

Kesempatan itu datang ketika raja Mesir bermimpi tujuh ekor sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus, dan tujuh bulir gandum yang hijau serta tujuh bulir yang kering. Tidak ada yang mampu menakwilkannya, hingga teringatlah pemuda yang pernah dibebaskan itu kepada Yusuf. Yusuf menakwilkan mimpi itu dengan tepat: akan datang tujuh tahun masa subur, lalu tujuh tahun paceklik, dan ia menyusun rencana penyimpanan pangan untuk menghadapinya (QS 12:43–49). Raja kagum dan meminta Yusuf dihadapkan kepadanya. Namun Yusuf tidak terburu-buru keluar: ia menuntut namanya dibersihkan terlebih dahulu. Setelah kebenaran terungkap dan istri pembesar itu mengakui kesalahannya, Yusuf pun keluar dengan nama yang bersih (QS 12:50–54).

Raja kemudian mengangkat Yusuf sebagai bendahara negeri: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan." (QS 12:55). Ketika paceklik melanda seluruh kawasan, saudara-saudaranya datang ke Mesir membeli gandum, tanpa mengenali Yusuf. Melalui serangkaian peristiwa — termasuk ditahannya Bunyamin karena bejana raja ditemukan di karungnya — Yusuf akhirnya membuka jati dirinya: "Sesungguhnya aku ini Yusuf, dan ini saudaraku." (QS 12:90). Saudara-saudaranya ketakutan, tetapi Yusuf menjawab dengan kalimat yang menjadi puncak kisahnya: "Tidak ada cercaan atas kalian hari ini. Mudah-mudahan Allah mengampuni kalian. Dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (QS 12:92).

Keluarga itu akhirnya berkumpul kembali di Mesir. Ayahnya yang telah kehilangan penglihatan mendapatkan kembali penglihatannya ketika baju Yusuf diusapkan ke wajahnya (QS 12:96). Yusuf mendudukkan kedua orang tuanya di singgasana, dan mereka semua bersujud kepadanya — dan barulah terwujud mimpi masa kecil itu: sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud (QS 12:99–100). Yusuf menutup kisahnya dengan doa: "Ya Tuhanku, Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi... wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh." (QS 12:101).

Pelajaran dari Kisah Yusuf

Pertama, iri hati adalah pintu kejahatan. Saudara-saudara Yusuf bukanlah orang jahat sejak lahir; mereka digerakkan oleh iri. Iri yang dibiarkan tumbuh bisa mendorong seseorang melakukan hal yang tidak pernah ia bayangkan. Menjaga hati dari iri adalah menjaga diri dari kejahatan.

Kedua, menjaga kehormatan lebih berharga daripada kebebasan. Yusuf memilih penjara daripada memenuhi ajakan maksiat. Harga diri dan ketakwaan tidak bisa ditukar dengan kenyamanan sesaat.

Ketiga, berdakwahlah di mana pun berada. Di penjara sekalipun, Yusuf mengajak orang kepada tauhid. Dakwah bukan menunggu panggung; ia dilakukan di tempat kita berada, dengan cara yang kita bisa.

Keempat, rencana Allah selalu lebih indah dari rencana manusia. Saudara-saudara Yusuf merencanakan keburukannya, tetapi setiap langkah justru mengantarnya ke singgasana. Sumur, perbudakan, fitnah, dan penjara — semuanya adalah jalan menuju mimpi yang Allah tunjukkan di masa kecilnya.

Kelima, memaafkan adalah puncak kemuliaan. Yusuf memiliki kuasa penuh untuk membalas, tetapi ia memilih mengampuni: "Tidak ada cercaan atas kalian hari ini." Orang yang paling mulia bukanlah yang paling kuat membalas, melainkan yang paling lapang memaafkan.

Keenam, jangan berputus asa dari rahmat Allah. Ayahnya, Ya'qub, menunggu bertahun-tahun tanpa kabar, tetapi tetap berharap. Dan harapan itu tidak sia-sia. Sebagaimana pesan Ya'qub, "Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah." (QS 12:87).

Bahan Konten

Video kisah Nabi Yusuf sedang dibuat — segera hadir di halaman ini.

Sambil menunggu videonya, berikut beberapa ide konten video pendek yang bisa dibuat dari kisah di atas, cocok untuk Facebook, TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts:

Teks artikel di halaman ini boleh dipakai sebagai bahan naskah atau narasi video Anda.

Sumber

Detail yang hanya berasal dari retelling populer ditandai "menurut riwayat yang populer" atau tidak dicantumkan. Isi halaman ini berpegang pada Al-Qur'an dan hadis sahih.